Website KPU Belum Menyentuh Segmen Pemilih
Lembata.kpu.go.id- Website KPU sebagai media informasi dan pendidikan pemilih belum secara total menyentuh segmen-segmen pemilih. KPU hanya menyuarakan kegiatan-kegiatan atau acara-acara pendidikan pemilih yang dilakukan di lapangan.
Hal tersebut disampaikan Komisioner KPU Provinsi NTT, Divisi Sosialisasi dan Parmas dalam Rapat Koordinasi Penguatan Kelembagaan bersama Ketua dan Anggota, Sekretaris serta seluruh pegawai sekretsrist KPU Kabupaten Lembata pada Senin (8/2) di Aula kantor KPU Kabupaten Lembata.
Yosafat mengatakan media yang terbangun adalah media yang menyentuh segmen-segmen pemilih. Media harus mewujudkan tugas kelembagaan yakni mengembalikan situasi pemilih yang apatis menjadi pemilih partisipatif. Artinya lanjut Yosafat, website sebagai media pendidikan pemilih harus mempublikasikan konten-konten pendidikan yang menyentuh segmen-segmen pemilih.
“Pikirkan apalagi yang harus dilakukan untuk mendorong partisipasi pemilih. Pikirkan apa yang harus dilakukan agar website kita tidak hanya sebagai media informasi pemilu tetapi betul-betul sebagai media pendidikan pemilih. Pikirkan. Cari nilai-nilai budaya, pesan-pesan leluhur, tradisi-tradisi terkait agar masyarakat kita merasa Pemilu sebagai martabatnya”.
Ia pun menyambut baik kegiatan-kegiatan pendidikan pemilih yang sudah dan sedang dilakukan oleh KPU kabupaten Lembata. Yosafat terang-terangan memberi pujian kepada KPU Lembata terkait kegiatan pendidikan pemilih satu jam di Sekolah bersama KPU. “Ini langkah yang bagus bagi KPU Lembata untuk mensosialisasikan informasi-informasi Pemilu kepada pemilih mileneal”.
Selain mengkritisi fungsi website, Yosafat pada kesempatan itu juga memberi penguatan-penguatan kepada komisioner, sekretaris dan pegawai KPU Kabupaten Lembata dalam menghadapi Pemilu dan Pemilihan serentak tahun 2024.
Idris Beda, divisi Sosialisasi dan Parmas KPU kabupaten Lembata pada kesempatan yang sama mengatakan tantangan terbesar dalam melakukan sosialisasi dan pendidikan pemilih melalui website dan media onlinenya adalah kurangnya minat atau animo masyarakat untuk membaca. Berita dan informasi tentang kepemiliuan kurang mendapat minat baca dari masyarakat termasuk pihak-pihak yang berkepentingan.
“Ini menjadi tantangan untuk kami kemas semua informasi kepemiluan sedemikian rupa sehingga betul betul menyentuh segmen pemilih. Pemilih mileneal misalnya, konten pendidikan pemilihnya berbebda dengan segmen pemilih difabel. Begitu juga konten pendidikan pemilih bagi segmen pemilih komunitas agama berbeda dengan segmen pemilih kelompok marginal”.(KPUlembata/Tim)
